Bekasi ll Pancegnews.com ll – Minggu siang, 31 Mei 2026, halaman DPP Gema Pancasila di Kp. Cisaat, RT 002 RW 003, Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi terdengar berbeda. Alunan gong, saron, dan kendang menyatu pelan, mengalir dari sanggar budaya yang beberapa tahun berdiri.

Hari ini, Gema Pancasila sedang menggelar latihan gamelan khas Jawa Tengah. Bukan sekadar rutinitas, tapi cara organisasi ini merawat warisan leluhur yang mulai jarang disentuh anak muda. Sanggar terbuka untuk umum, siapa pun boleh datang, belajar, dan ikut menabuh.

Di dalam sanggar, belasan anggota duduk lesehan mengelilingi satu set gamelan lengkap. Ada gong ageng menggantung gagah, kenong berjajar, bonang disusun dua tingkat, hingga saron dan demung yang siap diketuk. Bau kayu dan logam bercampur dengan semangat para penabuh.

Abdul Rozaq, Ketua Umum Gema Pancasila, ikut hadir menyaksikan. Baginya, gamelan bukan hanya alat musik. Ia menyebut gamelan adalah cermin nilai Pancasila, ada gotong royong, harmoni, dan musyawarah dalam setiap tabuhan. Tidak ada yang menonjol sendiri, semua harus seirama.

Latihan dipandu langsung oleh dalang senior, Romo Agung Jumadi Sri Radityo, sekaligus pembina Gema Pancasila. Ia mengajarkan gendhing lancaran “Kebogiro” berlaras slendro. Nada 1, 2, 3, 5, 6 mengalun pelan. Anggota muda yang awalnya kaku memegang tabuh, perlahan mulai menemukan ketukan dan rasa.

Yang menarik, mayoritas penabuh justru remaja Bekasi. Lahir di tanah Betawi, tapi mereka belajar menabuh gamelan Jawa Tengah. Tidak ada sekat suku. Di sanggar ini, Bhineka Tunggal Ika benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar semboyan di buku.

Suara saron ditabuh cepat oleh remaja putri berjilbab. Di sisi lain, seorang bapak paruh baya mengatur irama lewat kendang. Setiap kali tempo meleset, pelatih mengingatkan dengan sabar. “Rasakan, jangan hanya hafal notasi,” katanya. Gamelan memang soal rasa, bukan sekadar teknik.

Gema Pancasila sengaja memilih gamelan Jawa Tengah sebagai materi pertama sanggar. Alasannya sederhana, gamelan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, tapi di daerah sendiri justru makin sepi peminat. Jika tidak dikenalkan sejak dini, khawatir hanya tinggal nama.

Abdul Rozaq menegaskan bahwa melestarikan budaya adalah bagian dari mengamalkan Pancasila. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, tidak akan hidup jika budaya daerah dibiarkan mati. Lewat gamelan, anak muda belajar menghargai perbedaan laras, tempo, dan peran.

Latihan siang itu bukan tanpa tantangan. Beberapa anggota kesulitan membedakan bunyi demung dan saron. Ada juga yang tangannya yang masih kaku karena belum terbiasa memegang tabuh kayu. Tapi tidak ada yang menyerah. Gelak tawa pecah tiap kali ada yang salah tabuh lalu ditertawakan bersama.

Sanggar budaya ini memang dirancang terbuka. Warga sekitar Kertarahayu boleh ikut tanpa biaya. Syaratnya cuma satu, mau belajar dan menjaga sikap. Gema Pancasila ingin sanggar jadi ruang temu, tempat anak muda Bekasi mengenal budaya Nusantara tanpa merasa asing.

Menjelang sore, gendhing ditutup dengan tabuhan gong ageng yang menggetarkan dada. Suaranya dalam dan panjang, seolah jadi penanda bahwa latihan hari itu berhasil. Wajah-wajah lelah berubah jadi bangga. Ada kepuasan saat irama yang awalnya berantakan kini mulai menyatu.

Bagi Gema Pancasila, gamelan adalah pintu masuk. Setelah ini, sanggar berencana membuka kelas tari Jawa, macapat, hingga kerajinan wayang. Tujuannya tetap sama, mengangkat kembali budaya yang mulai terlupakan agar tidak terkikis zaman.

Abdul Rozaq menutup latihan dengan pesan singkat. Ia mengingatkan bahwa Indonesia kaya bukan karena gedung tinggi, tapi karena budaya. Jika gamelan saja tidak ada yang merawat, lalu apa yang mau diwariskan ke cucu nanti. Kalimat itu menampar, tapi juga menyadarkan.

Dari sebuah kampung di Setu, Bekasi, Gema Pancasila membuktikan bahwa merawat Pancasila bisa dimulai dari menabuh gamelan.(Red:LI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *