( PANCEGNEWS )
Senja kehidupan yang seharusnya diisi dengan ketenangan justru menjadi masa paling berat bagi Mak Oyi (79). Perempuan lanjut usia itu menjalani hari-harinya di sebuah rumah reyot di Dusun III Pasirhurip, Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.Bagi Mak Oyi, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di situlah ia bertahan menjalani hidup, meski setiap musim hujan datang dengan kekhawatiran yang sama: rumahnya bisa ambruk kapan saja.
“Rumah yang Mak tempati ini sudah tak layak huni, namun tak ada pilihan lagi, sehingga terpaksa ditempati sekalipun kondisinya mau roboh atau ambruk,” kata Mak Oyi, Minggu (7/6/2026). Hidup dari Uluran Tangan Sesama Sejak suaminya meninggal dunia, kehidupan Mak Oyi semakin sulit. Meski memiliki tiga anak, Mak Oyi mengaku tidak ada yang mampu menopang kebutuhan hidupnya. Kondisi kesehatan dan ekonomi anak-anaknya juga serba terbatas. Edi mengalami gangguan penglihatan akibat katarak hingga tidak bisa melihat dengan normal pada salah satu matanya. Anak lainnya, Dasem, terbaring sakit, sementara seorang anak yang tinggal di Bogor juga menghadapi persoalan ekonomi. “Anak Mak ada 3, semuanya dalam keadaan sakit. Edi sudah tak bisa melihat sebelah matanya akibat katarak, dan Dasem juga kondisinya sakit hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur, sementara anak yang di Bogor juga kondisinya sama ekonominya lemah,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti itu, Mak Oyi mengandalkan bantuan dari tetangga dan para dermawan untuk bertahan hidup. Tak jarang, kebutuhan makan sehari-hari diperoleh dari pemberian orang-orang yang datang menjenguk. Hari itu, ia kembali menerima bantuan berupa sembako dan uang tunai dari seorang dermawan.
“Hari ini Alhamdulillah dapat sumbangan atau bantuan dari dokter Maxi berupa sembako dan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya
Tak hanya membawa bantuan, dermawan tersebut juga memeriksa kondisi kesehatan anak-anak Mak Oyi yang sedang sakit. “Tak hanya berikan bantuan sembako dan uang, beliau juga memeriksa kondisi kesehatan anak saya Edi dan Dasem yang selama ini tergolek sakit,” imbuhnya. Tidur di Bale Bambu dan Kursi Kayu Kemiskinan yang dialami keluarga ini tampak dari hampir setiap sudut rumah. Tidak ada dapur layak, tidak ada fasilitas mandi dan sanitasi yang memadai. Untuk memasak, Mak Oyi hanya mengandalkan tungku sederhana yang disusun dari bata merah dan kayu bakar. Baca juga: Polres Subang Sidak 3 Lokasi Tambang Ilegal, Satu Area Langsung Dipasangi Police Line Saat malam tiba, ia beristirahat di atas bale bambu sederhana. Sementara Edi harus tidur di kursi kayu karena keluarga itu tidak memiliki kasur maupun tempat tidur yang layak.
Mengungsi Saat Hujan Datang Ketakutan terbesar Mak Oyi datang setiap kali langit mulai gelap dan hujan turun. Kondisi rumah yang sudah rapuh membuat tetangga kerap meminta dirinya meninggalkan rumah untuk sementara waktu demi keselamatan. “Kalau hujan turun, tetangga depan rumah saya ini selalu meminta saya keluar dari rumah dan tinggal sementara di rumahnya, karena takut rumah yang ditempati ini ambruk,” tuturnya. Menurut Mak Oyi, kondisi rumahnya sudah beberapa kali diajukan untuk mendapatkan bantuan program rumah tidak layak huni. Namun hingga kini belum ada realisasi. Harapan itu masih ia simpan. Di tengah keterbatasan yang dijalani, Mak Oyi berharap suatu hari ada bantuan yang datang untuk memperbaiki rumah yang telah menjadi saksi perjuangannya selama bertahun-tahun. “Rumah ini dan kondisi di dalamnya sudah beberapa kali disebarluaskan melalui media sosial oleh tetangga, berharap ada dermawan yang bersedia merehabnya,” pungkasnya.
( Red_ V )
