BEKASI ll Pancegnews.com ll – Klenengan adalah napas tradisi Jawa yang usianya jauh lebih tua dari masuknya agama-agama besar ke Nusantara. Alunan gamelan berirama tenang itu dulunya jadi pengiring laku spiritual malam 1 Suro. Namun kini, gema klenengan makin pelan. Generasi muda banyak yang tak kenal, bahkan sebagian masyarakat menganggapnya musyrik dan tabu.
Ironis. Di tanah Jawa sendiri, tradisi menyepi, begadang atau lek-lekan, dan merenung di malam 1 Suro justru makin asing. Padahal inti klenengan adalah laku hening untuk eling lan waspada. Introspeksi diri, merenungi kesalahan masa lalu, lalu memperbaiki diri di tahun baru Jawa. Bukan menyembah, tapi mendekat pada Tuhan Yang Maha Esa lewat jalan sunyi.
Klenengan bukan ritual kosong. Ia adalah ruang jeda. Saat gamelan ditabuh lirih, orang-orang sepuh melakukan tirakat sepanjang malam hingga pagi. Tujuannya jelas: memohon keselamatan, perlindungan dari mara bahaya, dan membersihkan diri dari sifat buruk. Sebuah pendekatan spiritual yang sarat makna, bukan sekadar bunyi-bunyian.
Sayangnya, makna itu terkubur stigma. Kata musyrik lebih cepat menempel dibanding pemahaman utuh soal filosofi Jawa. Akibatnya, banyak yang memilih menjauh. Malam 1 Suro yang dulunya khidmat kini sepi. Pantangan tidak keluar rumah kecuali ibadah, tidak bicara atau membuat keributan seperti tapa bisu di keraton, serta menghindari perayaan besar, dianggap tak relevan lagi.
Padahal pantangan itu bukan larangan tanpa nalar. Tidak keluar rumah adalah ajakan untuk menyepi dan fokus ibadah. Tidak bicara adalah laku menahan diri, melatih batin. Tidak menggelar pernikahan adalah bentuk penghormatan pada waktu yang dianggap sakral untuk mawas diri. Semua berpangkal pada satu hal: eling lan waspada.
Krisis identitas ini yang jadi kegelisahan Gema Pancasila. Sebagai organisasi berlandaskan Pancasila yang dimotori dalang senior, Romo Agung Jumadi Sri Radityo, Gema Pancasila melihat klenengan sebagai warisan budaya luhur, bukan praktik yang harus dimusuhi. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa justru sejalan dengan inti klenengan: pendekatan spiritual memohon pada Tuhan, bukan pada benda atau makhluk.
Masalahnya makin kompleks karena putusnya transmisi budaya. Kakek-nenek yang paham makna klenengan satu per satu wafat. Sementara anak-cucu hidup di era serba cepat dan bising. Gawai lebih menarik dari gamelan. Begadang untuk scrolling medsos lebih umum daripada lek-lekan untuk merenung. Ruang hening makin sempit.
Stigma musyrik juga membuat banyak sanggar seni takut menggelar klenengan 1 Suro. Padahal klenengan adalah medium. Gamelan hanya alat, bukan sesembahan. Seperti halnya azan pakai pengeras suara atau lonceng gereja. Mediumnya budaya, tujuannya spiritual. Tapi narasi yang berkembang kadung hitam-putih: kalau tradisi lama berarti bertentangan dengan agama.
Akibatnya fatal. Masyarakat kehilangan satu metode introspeksi kolektif. Malam 1 Suro yang mestinya jadi momentum jeda tahunan untuk evaluasi diri, kini lewat begitu saja. Tak ada perenungan, tak ada tirakat, tak ada eling. Yang tersisa hanya tanggal di kalender Jawa dan cerita orang tua yang dianggap dongeng.
Romo Agung Jumadi Sri Radityo, membaca ini sebagai darurat budaya. Jika klenengan hilang, maka hilang pula satu kearifan lokal tentang cara manusia Jawa mengelola batin. Bangsa yang tercerabut dari akarnya akan mudah goyah. Karena itu, salah satu kegiatan utama Gema Pancasila adalah membangkitkan kembali tradisi klenengan, khususnya di malam 1 Suro.
Bangkit bukan berarti memaksa semua orang kembali ke masa lalu. Bangkit berarti memberi ruang pemahaman. Bahwa klenengan adalah tradisi, budaya, laku spiritual yang sudah ada sebelum agama-agama dari luar masuk. Bahwa isinya adalah doa, perenungan, dan permohonan keselamatan kepada Tuhan. Bahwa Pancasila merangkul semua kearifan yang tidak bertentangan dengan ketuhanan dan kemanusiaan.
Pekerjaan rumahnya masih panjang. Menghapus stigma musyrik butuh edukasi. Menumbuhkan minat generasi muda ( Red_Li )
