DARI NIRA MENJADI GULA AREN: KEARIFAN LOKAL WARGA KP. CIKARANG, DESA KARANG PAMIDANGAN, LEBAK BANTEN TETAP TERJAGA!

LEBAK, BANTEN β€”PANCEG NEWS 21 September 2026 Di tengah gempuran gula pasir dan pemanis buatan, warga Kampung Cikarang, Desa Karang Pamidangan, Kabupaten Lebak, Banten, tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Setiap hari, sejak fajar menyingsing hingga senja menjemput, mereka berkeliling memanjat pohon aren untuk mengambil nira β€” bahan utama pembuatan gula aren asli, murni, tanpa campuran apa pun. Tradisi ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian dari jati diri masyarakat setempat yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

πŸ›– TRADISI TURUN-TEMURUN: MENYUSURI HUTAN, MEMANJAT POHON, MENGAMBIL NIRA DENGAN HATI-HATI

Cecep, salah satu warga Kampung Cikarang yang telah puluhan tahun menekuni pembuatan gula aren, menjelaskan secara rinci proses dimulainya dari pengambilan nira hingga menjadi gula yang siap dikonsumsi.

“Semua dimulai dari pagi buta. Sebelum matahari terbit, kami sudah berangkat ke hutan untuk memeriksa pohon-pohon aren yang sudah kami tandai. Proses mengambil nira itu tidak sembarangan β€” harus tahu pohonnya, tahu waktunya, dan harus hati-hati saat memanjat karena pohon aren itu tinggi dan batangnya berduri tajam,” ujar Cecep saat ditemui di kediamannya, Senin (21/9/2026).

Ia melanjutkan, nira diambil dari mayang (tandan bunga) pohon aren yang sudah tua. Sebelum diambil, mayang tersebut harus dipukul-pukul secara bertahap selama beberapa hari agar cairan nira keluar dengan lancar. Setelah itu, ujung mayang dipotong dan dipasang bambu atau wadah khusus untuk menampung cairan nira yang menetes perlahan-lahan.

“Pagi hari kami ambil hasil penetesan semalam, lalu pasang lagi wadah untuk penetesan siang hingga sore. Satu pohon aren bisa menghasilkan beberapa liter nira per hari, tergantung musim dan kondisi pohonnya. Nira yang diambil harus langsung dimasak β€” kalau terlambat, bisa berubah rasa dan tidak bagus untuk dijadikan gula,” jelas Cecep.

πŸ”₯ DARI NIRA MENDIDIH MENJADI GULA β€” KESABARAN DAN KETELITIAN KUNCI UTAMA!

Setelah nira terkumpul, proses selanjutnya adalah perebusan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Nira dimasak dalam kuali besar di atas kayu bakar, diaduk terus-menerus hingga airnya menyusut dan mengental menjadi gula.

“Proses memasak ini yang paling menentukan. Harus dijaga apinya, harus terus diaduk agar tidak gosong. Kalau sudah mengental dan berwarna cokelat pekat, baru dituang ke cetakan yang terbuat dari daun kelapa atau bambu β€” bentuknya seperti yang biasa kita lihat di pasaran. Lalu didinginkan sampai mengeras,” tutur Cecep.

Hasilnya adalah gula aren murni, berwarna cokelat tua, beraroma khas, dan rasanya manis legit yang tak bisa ditandingi gula buatan. Satu kali masak biasanya menghasilkan puluhan bongkahan gula aren yang siap dijual ke pasar maupun ke pembeli dari luar daerah.

πŸ’Ž HARGA DAN NILAI β€” GULA AREN KARANG PAMIDANGAN DICARI BANYAK ORANG!

Gula aren produksi warga Kampung Cikarang, Desa Karang Pamidangan, ini sudah lama dikenal dan dicari karena kualitasnya yang murni β€” tanpa pengawet, tanpa pewarna, tanpa campuran gula pasir.

“Banyak pembeli dari luar daerah bahkan dari Jakarta yang sengaja datang ke sini untuk membeli gula aren kami karena rasanya yang asli. Harganya memang sedikit lebih mahal dari gula biasa, tapi itu sebanding dengan kerja keras dan proses pembuatannya yang masih tradisional sepenuhnya,” ungkap Cecep.

Namun, di balik kebanggaan menjaga tradisi, warga juga menghadapi tantangan β€” semakin berkurangnya lahan pohon aren dan semakin sedikit pemuda yang mau meneruskan tradisi ini karena dianggap berat dan penghasilannya tidak menentu.

“Kami berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan produk gula aren ini. Bisa dibantu pemasarannya, dibantu pelestarian pohon aren, dan ada dukungan agar generasi muda mau meneruskan. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal menjaga warisan leluhur agar tidak punah,” harap Cecep.

⚑ KOMENTAR TIM PANCEG NEWS

*”Kearifan lokal warga Kampung Cikarang, Desa Karang Pamidangan, Lebak Banten ini patut diapresiasi setinggi-tingginya! Dari memanjat pohon aren di pagi buta, meneteskan nira dengan sabar, hingga memasak dengan ketelitian β€” semua dilakukan tanpa mesin canggih, hanya dengan tangan dan hati. Gula aren ini bukan sekadar pemanis, melainkan simbol ketekunan, kesederhanaan, dan cinta tanah air!

Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Lebak, khususnya Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Pariwisata, untuk:
βœ… Memberikan perhatian khusus dan promosi terhadap gula aren Karang Pamidangan!
βœ… Membantu kemasan dan pemasaran agar jangkauan pasar lebih luas!
βœ… Mendukung pelestarian pohon aren agar sumber daya ini terus berkelanjutan!

Produk lokal yang berkualitas harus diangkat dan dibanggakan. Gula aren asli Lebak β€” rasanya manis, pembuatannya jujur, dan pembuatannya orang-orang yang tulus! Mari kita dukung produk lokal, mari kita jaga warisan leluhur!”*

TIM PANCEG NEWS DEDI IRAWAN