PANDEGLANG— PANCEG NEWS 14 Oktober 2026

Jalan penghubung Dusun Cilukut, Desa Sukawaris menuju Dusun Bidur, Desa Sumurbatu bukan jalan aspal negara yang terbangun begitu saja. Jalan ini lahir dari pengorbanan warga sendiri: tanah dihibahkan secara sukarela oleh keluarga-keluarga di kedua desa sejak puluhan tahun lalu, sementara pengerasan dan pembangunan jalannya dibiayai sepenuhnya dari uang swadaya masyarakat yang terkumpul sebesar Rp34 juta — hasil taruhan tenaga dan uang receh yang dikumpulkan perlahan demi perlahan.

Kini, hasil keringat rakyat itu hancur lebur. Bukan karena hujan, bukan karena usia. Tapi karena dijadikan akses bebas lintasan kendaraan berat proyek irigasi Daerah Irigasi Cibaliung.

JALAN INI MILIK RAKYAT — DIBANGUN OLEH RAKYAT

Fakta yang tidak boleh dilupakan pihak manapun:

–  Tanah jalan ini adalah hibah warga — diserahkan secara sukarela oleh masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu untuk kepentingan bersama
–  Biaya pengerasan batu: Rp34 juta — murni swadaya masyarakat, bukan anggaran pemerintah. Setiap rupiah adalah hasil jualan tani, buruh harian, dan tabungan warga yang dikumpulkan bersama
–  Dibangun dengan tenaga gotong royong — warga turun tangan sendiri, karena pemerintah belum mampu membiayainya
–  Kini hancur parah — batu-batu pecah, badan jalan amblas, tergerus roda truk besar yang berlalri setiap hari tanpa henti

“Kami tidak minta dibelikan jalan mewah. Kami sudah bangun sendiri dengan tanah kami dan uang kami. Yang kami minta: jangan dirusak! Tapi truk-truk proyek ini lewat seolah jalan ini milik mereka sendiri. Hasil kerja keras kami hancur dalam hitungan minggu.” — ujar seorang tokoh masyarakat di lokasi.

BILA HUJAN DATANG, SEMUA HILANG

Kerusakan yang terjadi saat ini hanyalah permulaan. Jika tidak segera diperbaiki dan dilindungi sebelum musim hujan berlangsung penuh:

–  Jalan batu yang sudah amblas akan hanyut terbawa air hujan — hilang sudah Rp34 juta swadaya rakyat
–  Seperti dilaporkan sebelumnya: anak-anak sekolah sudah terhenti belajar saat jalan tergenang, dan kondisi ini akan jauh lebih parah
– Warga akan benar-benar terisolir — tidak ada akses, tidak ada bantuan
–  Hasil tani tidak bisa keluar, kebutuhan tidak bisa masuk — ekonomi warga lumpuh total

DESAKAN TEGAS MASYARAKAT: JANGAN TUNDA, SEBELUM TERLAMBAT

Masyarakat kedua desa menyampaikan tuntutan dengan tegas:

“Kami sudah berkorban tanah, kami sudah berkorban uang, kami sudah berkorban tenaga untuk membangun jalan ini. Sekarang dirusak, dan kami diam saja? Tidak!

Kami menuntut tiga hal ini, sekarang juga:

1. Pihak proyek wajib memperbaiki dan mengembalikan kondisi jalan seperti semula — bahkan lebih baik — atas biaya sendiri, bukan menambah beban rakyat lagi
2. Segera tentukan jalur alternatif kendaraan proyek agar tidak lagi melintas di jalan swadaya warga ini
3. Lakukan semua ini sebelum musim hujan tiba, jangan menunda satu hari pun lagi. Kalau hujan sudah datang, tidak ada yang bisa memperbaikinya. Jangan tunggu sampai jalan ini hanyut baru bergerak!”

KOMENTAR PANCEG NEWS

Dedi Irawan, Koordinator Wilayah Banten — Panceg News:

“Ini adalah perampasan hak rakyat yang tersembunyi. Masyarakat sudah berkorban tanah dan mengeluarkan uang swadaya Rp34 juta untuk membangun akses kehidupan mereka sendiri. Lalu datang pihak proyek dengan kekuatan modal dan kendaraan berat, menghancurkannya begitu saja tanpa tanggung jawab? Ini tidak bisa dibiarkan terjadi.

Prinsipnya sangat jelas: Siapa yang merusak, wajib memperbaiki. Tidak ada alasan untuk menunda. Jangan menunggu sampai hujan menghanyutkan hasil swadaya rakyat baru bergerak — saat itu sudah terlambat. Jangan anggap remeh kemarahan warga yang sudah membangun dengan tangan sendiri lalu diinjak-injak semena-mena.

Pemerintah Kabupaten, Dinas terkait, dan pihak pelaksana proyek: turun ke lapangan sekarang. Lihat sendiri pengorbanan rakyat ini. Bertindaklah sebelum musim hujan menjadikan ini bencana yang tidak bisa dikembalikan. Kami pantau terus. Rakyat tidak akan diam.”

PENUTUP

Jalan Cilukut–Bidur bukan sekadar tumpukan batu dan tanah. Di sana tersimpan pengorbanan warga: tanah yang dihibahkan, keringat yang menetes saat gotong royong, dan Rp34 juta yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari penghasilan yang pas-pasan. Jika proyek datang merusaknya tanpa tanggung jawab, maka itu bukan pembangunan — itu perusakan milik rakyat.

Musim hujan menunggu. Warga tidak menunda. Pemerintah dan pihak proyek tidak boleh menunda.

Sumber: Panceg News — Liputan Lapangan, 14 Oktober 2026
Laporan: Tim Liputan Panceg News & Alvent HD Team
Kontak: Panceg News — Korwil Banten