( PANCEGNEWS )

Subang – Kenaikan harga kedelai yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan para perajin tahu di Kabupaten Subang. Kondisi tersebut memaksa sejumlah pelaku usaha rumahan mengambil berbagai langkah untuk mempertahankan usahanya agar tetap berjalan di tengah meningkatnya biaya produksi.

Salah seorang perajin tahu di Subang mengaku harga kedelai yang menjadi bahan baku utama mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Akibatnya, biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih.

Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, para perajin terpaksa melakukan berbagai siasat. Di antaranya dengan memperkecil ukuran tahu yang dijual, mengurangi jumlah produksi harian, hingga menaikkan harga jual secara bertahap.

“Kami tidak bisa langsung menaikkan harga terlalu tinggi karena khawatir pelanggan beralih ke produk lain. Jadi ukuran tahu sedikit diperkecil agar tetap bisa dijual dengan harga yang masih terjangkau,” ujar salah seorang perajin.

Tak hanya itu, sebagian pelaku usaha juga harus mengambil keputusan berat dengan mengurangi jam kerja karyawan. Bahkan ada yang terpaksa merumahkan beberapa pekerja sementara waktu untuk menekan biaya operasional.

Menurut para perajin, jika harga kedelai terus meningkat tanpa adanya stabilisasi pasar, maka tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak usaha kecil yang kesulitan bertahan. Mereka berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan harga kedelai di pasaran.

Selain menghadapi mahalnya bahan baku, para perajin juga dibebani kenaikan biaya pendukung lainnya seperti bahan bakar, listrik, dan transportasi distribusi. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat margin keuntungan semakin menipis.

Meski demikian, para perajin tahu di Subang berupaya tetap mempertahankan usahanya karena menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga dan para pekerja yang menggantungkan hidup dari industri rumahan tersebut.

Para pelaku usaha berharap kondisi pasar segera membaik sehingga produksi dapat kembali normal dan tenaga kerja yang dirumahkan bisa kembali bekerja seperti biasa. Hingga kini, para perajin masih terus mencari cara agar usaha mereka tetap bertahan di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

( Red_v )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *