Tangerang II Pancegnews II 13/03/2026 II – Di tengah banyaknya novel baru yang terus bermunculan setiap tahun, ada beberapa karya yang tetap bertahan di hati pembaca. Salah satunya adalah novel komedi berjudul From Pesantren with Laugh karya Irvan Aqila yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Meski telah dirilis beberapa waktu lalu, novel ini masih sering diperbincangkan oleh para pecinta buku karena ceritanya yang ringan, segar, dan penuh humor khas kehidupan santri di pesantren.
Novel ini mengangkat kisah keseharian para santri di Pesantren Modern Sabilut Tauhid, khususnya penghuni kamar Abdurrahman bin Auf yang dikenal dengan julukan unik The Cacingers. Julukan tersebut muncul karena tubuh mereka yang kurus seperti “orang cacingan”, namun justru dari kamar inilah berbagai kejadian lucu bermula.
Tiga tokoh utama dalam cerita ini adalah Badar, Oji, dan Guntur yang dikenal dengan sebutan Trio Bajigur. Ketiganya sering terlibat dalam berbagai kejadian kocak yang membuat pembaca tertawa. Salah satu peristiwa paling absurd adalah ketika mereka berulang kali kehilangan sandal jepit sebelah kiri setiap selesai salat berjamaah di masjid.
Kejadian aneh tersebut membuat Trio Bajigur melakukan berbagai cara unik untuk menangkap pencuri sandal. Mulai dari menggembok sandal, menyembunyikannya di tempat aneh, hingga memakai kantong plastik sebagai alas kaki. Namun bukannya berhasil, usaha mereka justru berakhir dengan kekacauan yang semakin lucu.

Tidak hanya soal sandal jepit, novel ini juga dipenuhi berbagai kisah menarik lain seperti cerita Oji yang diam-diam menaruh hati pada seorang santri perempuan, kehebohan Hari Mencuci Nasional, hingga berbagai perlombaan tahunan di pesantren yang menjadi ajang pembuktian bagi para anggota The Cacingers.
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada dialog yang ringan dan menghibur, serta karakter tokoh yang sangat khas. Oji dengan logat Jawa yang medok, Guntur dengan gaya bicara yang dramatis, dan Badar yang penuh ide aneh sering kali membuat situasi sederhana berubah menjadi kekonyolan besar.
Selain itu, kehadiran ilustrasi karya Fajar Istiqlal juga menambah daya tarik cerita. Ilustrasi tersebut membantu pembaca membayangkan situasi lucu yang terjadi di dalam novel.
Hal menarik lainnya adalah adanya quote inspiratif di setiap awal bab. Kutipan tersebut bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga menjadi petunjuk kecil tentang isi cerita yang akan dibaca.
Dengan cerita yang ringan, penuh humor, serta nuansa persahabatan yang hangat, From Pesantren with Laugh menjadi salah satu novel yang cocok dibaca kapan saja. Tidak hanya menghibur, buku ini juga memberi gambaran bahwa kehidupan di pesantren tidak selalu serius, tetapi juga penuh tawa dan kenangan.
Tak heran jika hingga kini novel ini masih sering direkomendasikan oleh para pembaca dan komunitas literasi. Bagi yang ingin mencari bacaan santai namun tetap berkesan, From Pesantren with Laugh masih menjadi pilihan yang layak untuk kembali dibuka dan dinikmati.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *